Hidupkan atau matikan sekalian sajalah

Menyuasanai Diri

Pernah nggak?
Jalan-jalan ke mall, terus karaokean, ber-have fun ria, rame-rame.
Tapi setelah itu, ngerasa hampa dan kosong.

Atau,

Pernah nggak?
Naik kereta dari satu stasiun ke stasiun lain, atau jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain yg cukup jauh, nikmatin suasana, angin, pecel, sendirian.
Tapi rasanya terisi.

Aku sering. Sering banget


Bagiku, menikmati itu, bukan itu. Tapi ‘itu’.

0:45   9-1-14   1 note

Capeekkk bgtzz tp jd juga. Percobaan kedua lebih enak ternyata. with Rani Amalia – View on Path.

Capeekkk bgtzz tp jd juga. Percobaan kedua lebih enak ternyata. with Rani Amalia – View on Path.

23:22   8-30-14

Say AAAAA #cemkul #mudik

Say AAAAA #cemkul #mudik

12:32   8-22-14   1 note

Meskipun HP gak pro, yg pntg dpt hasilnya. Haha makasih pengalaman mudiknya, Cemara and friends.. Semoga bs ketemu lagi.. with dhika, Azhari, and Fathia Agzarine at Desa Cemara Kulon – View on Path.

Meskipun HP gak pro, yg pntg dpt hasilnya. Haha makasih pengalaman mudiknya, Cemara and friends.. Semoga bs ketemu lagi.. with dhika, Azhari, and Fathia Agzarine at Desa Cemara Kulon – View on Path.

2:50   8-19-14

Mudik (Part 1)

Buat kalian yang punya kampung, tentu mudik jadi hal yang wajar. Rutinitas. Rasanya kalo nggak mudik ga lengkap. Bahkan bisa jadi cenderung bosan. Hmm tapi buat gue yang memang gak punya kampung, mudik merupakan mimpi yang tertunda. Bahkan mimpi mudik aja belum berani. Nanti aja kalo punya suami yang-dan memang harus- punya kampung! Haha. tapi sebelum gue berkeluarga, alhamdulillah gue bisa merasakan ‘kembali’ ke ‘rumah’. Iya, di Indramayu :’). Tepatnya di Desa Cemara Kulon. Tepat pertama kali kaki gue menapak di Stasiun Jatibarang perasaan itu meningkat hingga sesak nafas saking senengnya. Apalagi ketika melewati jalan lurus aspal dengan pesona tambak di kiri kanan menuju sana. Dalam-dalam gue hirup nafas dalaam lalu menghembuskannya. Tenang. Ada pula perasaan merindu dan dirindukan yang timbul. Hihihi senang rasanya.

Oke, itu nanti.

Read More

2:11   8-19-14

Lama, perempuan itu terdiam menatap pantulannya. Kedua tangannya menggenggam sebuah layar dan jemarinya pun bergerak kesana kemari. Sekilas ia sedang berkaca, namun bukan pada cermin. Pautan ini, ataupun itu, seakan ia selalu melihat dirinya jatuh. Ia tau masalah ini tak akan ada habisnya. Bagi orang lain, menjadi teladan adalah dengan mengumbar dalam perbendaharaan kalimat. Sementara baginya, kini, ia malah tak bersyukur dengan dia yang mengumpat. Kebebasannya terbelenggu, kekuatannya melemah, enerjinya habis. Hanya untuk melemahkan diri sendiri.

Jiwamu kini menunggu mati, wahai puan yang dirahmati.

1:12   8-15-14

isnidalimunthe:

Ahahahahha, masa SD bingit nih. :”)

isnidalimunthe:

Ahahahahha, masa SD bingit nih. :”)

(Source: ranntaro)

0:17   8-3-14   48 notes

“Sometimes words are not enough to make someone feel that you care for them. Sometimes it needs a little effort.”

— (via yanilavigne)

(via fatenmuhamad)

23:53   8-2-14   2,297 notes

alongcamenad:

Oh Allah, when I lose my hopes and plans, help me remember that Your love is greater than my disappointments, and Your plans for my life are better than my dreams.

-Ali Ibn Abi Talib (RA)

"Your love is greater than my disappointments"

(via myrahmi)

0:47   7-26-14   781 notes

“Jangan datang, kalo cuma mau pergi. Jangan memulai, kalo cuma mau mengakhiri.
Hidup gak sesederhana itu.”

0:45   7-26-14   1 note

'Entah apa ini, kenapa bisa gini, kok jadinya gini, kok bisa si ini', dan masih banyak alur-alur yang-pastinya bukan- kebetulan, yang dirancang sama Sang Perancang sedemikian gilanya, yang membingungkan.

Apa maksudNya ya? Tau deh.

Satu hal yang lumayan saya bisa puruk serpihan hikmahnya. Bahwa semuanya akan ada waktunya. Jika memang sudah saatnya, maka yang datang pastilah akan datang. Yang pergi juga pasti akan pergi. Yang singgah sebentar juga. Yang menghidupkan, yang mematikan, yang apapun. Barang sedetikpun tak akan terlewat.

Kayaknya harus agak cerdas dalam memilah hikmah dalam tiap labirin kehidupan. Cantik-cantik main. Tp tetep, singgahan ini hanya sementara. Tujuan tetep harus ada.

6:47   7-21-14

Meanwhile in a Mosque
(Hp salah satu jamaah berdering)
Anak : Haloo. Iya, ini lagi sholat nih.
Hetdah. Lagi sholat ngangkat tilpun. Haha

6:31   7-21-14

Hari Raya-nya

"Waduh eta duit urang cuma segini. Beliin apaan yak?" Gumamku dalam hati. Ningrum yang sedari tadi di sebelahku tidak tau, galauku sejak sebelum hari ini.

Hari ini, walaupun dia selalu menolaknya, aku anggap sebagai hari-raya-nya. Terserah apa elakannya. Dan kami HARUS me-raya-kannya pula. Ya kalo nggak, siapa lagi? Tradisi ini mulai kupelihara sejak 4-5 tahun lalu, saat pertama kali aku bekerja. Dan mendapat gaji. Dari situ aku paham sulitnya mencari uang dan juga…mengeluarkannya. Gak rela gituh. Hahaha tapi dia ngajarin cara ngelola itu semua. Sejak itulah, aku memulai tradisi ngerayain kecil-kecilan hari raya-nya maupun mereka. Sekedar beli eskrim seliter, beli kukis, kue, beli gelas, atau beli baju, yaa disesuaikan sama keuangan. Ujung-ujungnya juga yang makan serumah. Maklum masih ada bayi-bayi di rumah. Tapi yang jelas, dia ngerasain kalo disini ada penghargaan buat dia. Ada kita disini buat dia.

"Yaudah yuk cak gue anter. Mau beli apaan?" tanya ning selepas menghabiskan sop durennya.

"Eskrim aja deh. Mak gue lagi pengen kayaknya." Jawabku. Tinggal beli ke mart2 itu, kelar.

Etapi sial. Yang seliteran nggak ada. Hasss. Adanya yang printil-printil. Hari juga semakin larut. Jarum jam menunjukan angka 10. Hadehh… Akhirnya ning menyarankan dalam kesetiaannya mengantar dari satu mart ke mart lain, “beli pijja itu aje noh cak.”

Boleh juga. Umpung abis gajian. Walopun gak seberapa banget. Mayan deh. Itu doang juga kyknya yg masih buka.

Singkat cerita kami sudah membeli. Dan harganya…ya…ternyata…rada-rada sih. Haha gapape deh. Semoga dia suka. Plis wait mee! Jangan bobok duyuu~ Begitu jeritku dalam kegetiran melawan rayuan angin malam. Yang meninabobokan dia. Noo!

Taraaa aku pulang. Pulangku disambut oleh kebahagiaan para kucrit-kucrit yang kayaknya seneng banget liat mpoknya bawa kantong kresek putih berisi suatu kardus segi enam. Dan begitupula dia. “Apaan nih cak?” tanyanya. Ku jawab separo ngebut, “hehe buat mamah. Kan ulang taun. Sekali-kali mah. Hehehe. Jangan protes. Aku abis gajian.”

Ku selak lagi, “iya tau, mamah ulangtaunnya dua hari. Tapi kan lahirnya hari ini. Akte doang beda.”
Selakan yang sama, setiap tahun. Setiap aku ingin me-raya-kannya.

Dia hanya tersenyum. Lalu berkata hal manis yang juaraaaang sekali diucapkan oleh wanita tangguh yang gengsinya selangit ini, “makasih yee”.

Perempuan yang keluar pertama dari rahimnya ini pun mengucapkan hal yang syuliiiit sekali diucapkan tiap tahunnya (karena mamaknya yang sangat gak mau diromantisin), “met ultah ya mah.”

Kami sama-sama berbisik dan gengsi. Tapi dari dalam hati kami, aku bisa merasakan frekuensi getarannya. Kami sama. Sama-sama sayang.

Meskipun….. porsinya paling sedikit karena dibabat para krucil-krucil. Hadeeehhh… Ya. Bumbunya.

'Ya Allah ampunilah dosaku, dan dosa kedua orangtuaku. Sayangilah mereka. Sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil. Aamiin..'

0:52   7-14-14

“Kelak ca, ada yg rapihin tiap retak yg dibikin oleh mereka yg gabertanggungjawap”

Ningrum.

Aku percaya

22:15   7-11-14   1 note

Sebagian kecil dari keragaman Indonesia yang ditampilkan dalam bentuk Udeng (kain di kepala).
Liat deh, tiap daerah beda bentuknya. Bahkan kalau mau lebih dispesifikin lagi, bedanya lebih unik lagi. Lebih beragam lagi. Qeren ya, Indonesia :’)


Edited by: M. Donni Saputra, STIS ‘12

Sebagian kecil dari keragaman Indonesia yang ditampilkan dalam bentuk Udeng (kain di kepala).
Liat deh, tiap daerah beda bentuknya. Bahkan kalau mau lebih dispesifikin lagi, bedanya lebih unik lagi. Lebih beragam lagi. Qeren ya, Indonesia :’)


Edited by: M. Donni Saputra, STIS ‘12

14:50   7-6-14   1 note