alongcamenad:

Oh Allah, when I lose my hopes and plans, help me remember that Your love is greater than my disappointments, and Your plans for my life are better than my dreams.

-Ali Ibn Abi Talib (RA)

"Your love is greater than my disappointments"

'Entah apa ini, kenapa bisa gini, kok jadinya gini, kok bisa si ini', dan masih banyak alur-alur yang-pastinya bukan- kebetulan, yang dirancang sama Sang Perancang sedemikian gilanya, yang membingungkan.

Apa maksudNya ya? Tau deh.

Satu hal yang lumayan saya bisa puruk serpihan hikmahnya. Bahwa semuanya akan ada waktunya. Jika memang sudah saatnya, maka yang datang pastilah akan datang. Yang pergi juga pasti akan pergi. Yang singgah sebentar juga. Yang menghidupkan, yang mematikan, yang apapun. Barang sedetikpun tak akan terlewat.

Kayaknya harus agak cerdas dalam memilah hikmah dalam tiap labirin kehidupan. Cantik-cantik main. Tp tetep, singgahan ini hanya sementara. Tujuan tetep harus ada.

Hari Raya-nya

"Waduh eta duit urang cuma segini. Beliin apaan yak?" Gumamku dalam hati. Ningrum yang sedari tadi di sebelahku tidak tau, galauku sejak sebelum hari ini.

Hari ini, walaupun dia selalu menolaknya, aku anggap sebagai hari-raya-nya. Terserah apa elakannya. Dan kami HARUS me-raya-kannya pula. Ya kalo nggak, siapa lagi? Tradisi ini mulai kupelihara sejak 4-5 tahun lalu, saat pertama kali aku bekerja. Dan mendapat gaji. Dari situ aku paham sulitnya mencari uang dan juga…mengeluarkannya. Gak rela gituh. Hahaha tapi dia ngajarin cara ngelola itu semua. Sejak itulah, aku memulai tradisi ngerayain kecil-kecilan hari raya-nya maupun mereka. Sekedar beli eskrim seliter, beli kukis, kue, beli gelas, atau beli baju, yaa disesuaikan sama keuangan. Ujung-ujungnya juga yang makan serumah. Maklum masih ada bayi-bayi di rumah. Tapi yang jelas, dia ngerasain kalo disini ada penghargaan buat dia. Ada kita disini buat dia.

"Yaudah yuk cak gue anter. Mau beli apaan?" tanya ning selepas menghabiskan sop durennya.

"Eskrim aja deh. Mak gue lagi pengen kayaknya." Jawabku. Tinggal beli ke mart2 itu, kelar.

Etapi sial. Yang seliteran nggak ada. Hasss. Adanya yang printil-printil. Hari juga semakin larut. Jarum jam menunjukan angka 10. Hadehh… Akhirnya ning menyarankan dalam kesetiaannya mengantar dari satu mart ke mart lain, “beli pijja itu aje noh cak.”

Boleh juga. Umpung abis gajian. Walopun gak seberapa banget. Mayan deh. Itu doang juga kyknya yg masih buka.

Singkat cerita kami sudah membeli. Dan harganya…ya…ternyata…rada-rada sih. Haha gapape deh. Semoga dia suka. Plis wait mee! Jangan bobok duyuu~ Begitu jeritku dalam kegetiran melawan rayuan angin malam. Yang meninabobokan dia. Noo!

Taraaa aku pulang. Pulangku disambut oleh kebahagiaan para kucrit-kucrit yang kayaknya seneng banget liat mpoknya bawa kantong kresek putih berisi suatu kardus segi enam. Dan begitupula dia. “Apaan nih cak?” tanyanya. Ku jawab separo ngebut, “hehe buat mamah. Kan ulang taun. Sekali-kali mah. Hehehe. Jangan protes. Aku abis gajian.”

Ku selak lagi, “iya tau, mamah ulangtaunnya dua hari. Tapi kan lahirnya hari ini. Akte doang beda.”
Selakan yang sama, setiap tahun. Setiap aku ingin me-raya-kannya.

Dia hanya tersenyum. Lalu berkata hal manis yang juaraaaang sekali diucapkan oleh wanita tangguh yang gengsinya selangit ini, “makasih yee”.

Perempuan yang keluar pertama dari rahimnya ini pun mengucapkan hal yang syuliiiit sekali diucapkan tiap tahunnya (karena mamaknya yang sangat gak mau diromantisin), “met ultah ya mah.”

Kami sama-sama berbisik dan gengsi. Tapi dari dalam hati kami, aku bisa merasakan frekuensi getarannya. Kami sama. Sama-sama sayang.

Meskipun….. porsinya paling sedikit karena dibabat para krucil-krucil. Hadeeehhh… Ya. Bumbunya.

'Ya Allah ampunilah dosaku, dan dosa kedua orangtuaku. Sayangilah mereka. Sebagaimana mereka menyayangiku di waktu aku kecil. Aamiin..'

Sebagian kecil dari keragaman Indonesia yang ditampilkan dalam bentuk Udeng (kain di kepala).
Liat deh, tiap daerah beda bentuknya. Bahkan kalau mau lebih dispesifikin lagi, bedanya lebih unik lagi. Lebih beragam lagi. Qeren ya, Indonesia :’)


Edited by: M. Donni Saputra, STIS ‘12

Sebagian kecil dari keragaman Indonesia yang ditampilkan dalam bentuk Udeng (kain di kepala).
Liat deh, tiap daerah beda bentuknya. Bahkan kalau mau lebih dispesifikin lagi, bedanya lebih unik lagi. Lebih beragam lagi. Qeren ya, Indonesia :’)


Edited by: M. Donni Saputra, STIS ‘12

KuasaMu

Dalam keheningan ku bersimpuh
Ku buka lembaran-lembaran kitab-Mu
Ku temukan damai membaca sabda-Mu

Tuhan ku memohon, Tuhan ku
memohon
Pancarkan cahaya di hidupku
Tuhan ku percaya Engkau pasti telah
Merencanakan yang terbaik untuk
diriku
Agarku tak jatuh dan selalu ada di
jalan-Mu

Tak perlu ku lihat, tanpa ku mendengar
Dapat ku rasakan, selalu ku rasakan
Betapa besarnya kuasaMu

Tuhan ku percaya Engkau pasti telah
Merencanakan yang terbaik untuk
diriku
Agarku tak jatuh dan selalu ada di
jalan-Mu
KepadaMu ku meminta
Ku menyembah ku bersujud
Tuhan aku percaya Kau pasti berikan
Telah Kau sediakan semua bagi
hambaMu
Tanpa Kau bedakan

Tuhan jangan biarkan (jangan biarkan)
Hatiku mengeluh meragukan rahmatMu
Tuhan hanya Engkaulah penuntun
langkahku
Tuk selalu tetap di jalanMu
Ada di jalan-Mu


-Bunga Citra Lestari-


Bagus T___T